Adab bangun tidur
Bismillah, hari ini pertama Kali nulis Di blog pribadi. Sebenarnya menulis Di blog saat ini adalah dalam rangka pemenuhan tugas kelas bunda sayang level 1 tentang komunikasi produktif. 😂. Mudah2n selanjutnya bisa memotivasi diri untuk Berkarya lewat tulisan..
Kemarin saya sudah coba mempraktekkan teori komunikasi produktif kepada suami. 😊
Saya berusaha mentransfer ilmu yang Baru saja saya dapat tentang adab bangun tidur. Saya coba untuk menjelaskan kembali kepada suami, hal2 apa saja yang Harus diperhatikan saat kita bangun tidur. Karena suami sering sekali mengeluh sakit pada ototnya terutama Di leher. Jadi saya pikir perlu agar ilmu adab bangun tidur ini disampaikan kepada beliau.
Metode penyampaian nya sebenarnya saya ingin meniru bunda septi yang sering diberi tugas persentasi didepan pak dodik, tp apa Daya, persiapan tidak sempat dilaksanakan. Jadi saya coba langsung transfer seperti obrolan yang mengalir saja.
Sehabis subuh saya coba untuk membuka obrolan dengan suami. Saya ceritakan kepadanya, kemarin mendapat materi ta'lim tentang adab bangun tidur. Saya katakan padanya Ketika kita bangun tidur, pastikan kondisi kita sudah benar2 bangun, istilah yg sering dipakaiI biasanya ketika nbawa sudah terkumpul. Setelah itu sebaiknya jangan langsung bangkit dari posisi tiduran. Posisikan tubuh kita miring kekanan atau kekiri. Dan saat kita bangun, yang menjadi tumpuan tubuh kita bangkit adalah tangan dimana posisi kita menghadap. Misal posisi miring kekanan, Maka tangan yang dijadikan tumpuan adalah tangan kanan. Dan begitu juga sebaiknya.
Baru juga sekitar 5 menit ngobrol, eh syifa (anak saya berumur 14bulan) terbangun dan menangis. Kebetulan memang syifa sedang kurang Enak badan. Dan akhirnya obrolan tentang adab bangun tidur pun terhenti. 😂😂😂.
Saya menjadikan materi adab bangun tidur sebagai aplikasi dalam mempraktekkan komunikasi produktif kepada suami. Dan ternyata dalam pelaksanaannya Masih banyak kekurangan. Indikasinya tidak ada respon yang berarti dari suami. Saat itu suami tidak memberikan tanggapan, dan ketika syifa menangis suami segera menyuruh saya untuk melayani syifa.
Setelah saya evaluasi, kesalahan saya sebagai komunikator saat itu adalah pemilihan waktu yang kurang tepat dan penyampaian yang kurang menarik. Karena sebaiknya transfer ilmu dilakukan dengan cara dan waktu yang tepat agar ilmu yang disampaikan bisa diterima dan dilaksanakan dengan baik.
Solusinya kedepan persiapan Harus dibuat lebih baik. Bila memungkinkan materi dibuat berupa media visual agar suami bisa lebih tertarik menerima informasi yang ingin saya sampaikan. Mungkin ini juga tergantung dengan informasi yang ingin disampaikan. Bila temanya ringan tidak perlu sekompleks itu.
Rencana selanjutnya, tetap ingin menyampaikan materi adab bangun tidur dengan versi yang lebih menarik kepada suami. Karena materi tersebut dapat menjadi batere dalam menjalankan kehidupan kami sebagai manusia seutuhnya. Dan next, semoga bisa mempraktekan dan melaksanakan komunikasi produktif dalam setiap waktu. Aamiin Ya Allah... 😘
Rencana selanjutnya, tetap ingin menyampaikan materi adab bangun tidur dengan versi yang lebih menarik kepada suami. Karena materi tersebut dapat menjadi batere dalam menjalankan kehidupan kami sebagai manusia seutuhnya. Dan next, semoga bisa mempraktekan dan melaksanakan komunikasi produktif dalam setiap waktu. Aamiin Ya Allah... 😘

Komentar
Posting Komentar