Running my passion
Setelah ikut kelas matrikulasi #institutibuprofesional , saya mulai menyadari bahwa passion saya sebenarnya adalah dalam persoalan mixer dan oven. Mata saya langsung berbinar dan lelah saya pun tak akan terasa bila berada disekitar wilayah ini. Bukan saya tidak mencintai pekerjaan dokter gigi, hanya saja, dunia perbakingan membuat hidup saya menjadi lebih bersemangat, membuat hati berbunga2 seperti saat pertama mengikat janji suci bersama ayah syifa tercinta, 😍 . Walaupun pada kenyataannya saat ini aneka kue yang saya buat, lebih banyak gagalnya dibanding ekspektasi. Tapi saya yakin, dengan terus belajar dan menekuni minat saya, insya Allah saya akan menjadi ahli didunia culinary. Aamiin ya Allah...
Saya terus belajar untuk bisa menekuni passion saya. Seperti hari ini usaha yang saya lakukan adalah mengikuti kelas Napoleon cake Di @bantencookingclass dengan @tehdetty sebagai instruktur nya. Barakallah Teh, terima kasih ilmunya, semoga bisa membawa manfaat dan kebaikan untuk kita semua, terutama teteh dan keluarga.
Sebenarnya agak berat untuk saya mengikuti kelas hari ini karena Harus meninggalkan syifa dan ayahnya selama beberapa jam. Saya khawatir ayah akan kewalahan mengasuh syifa tanpa saya. Beberapa jam sebelum kursus dimulai, saya berusaha menerapkan komunikasi produktif kepada syifa.
Ibu : "syifa... hari ini Ibu mau belajar buat kue. Selama Ibu belajar, syifa main sama ayah, wa lia, mbah, dan aa fian yah. Syifa sama ayah antar Ibu dulu ke tempat belajar nya, setelah itu syifa jemput wa Lia trus pulang. Nanti siang Ibu pulang, baru syifa bisa mimik lagi.."
Syifa : (hanya terdiam, syifa memperlihatkan ekspresi tidak keberatan).
Saya yakin syifa mengerti yang saya bicarakan, karena sudah seringkali syifa memberikan respon, interaktif sesuai dengan kemampuannya, jika saya ajak bicara.
Ternyata kelas hari ini selesai tepat saat adzan ashar berkumandang. Sudah sangat lama untuk syifa menanti kepulangan saya. Saat saya tiba dirumah, terlihat sisa tangisan dengan airmata yang masih berlinang dikedua pipinya. Syifa langsung menangis histeris ketika dia melihat saya. Saya coba menenangkannya. Setelah beberapa saat alhamdulillah akhirnya syifa bisa tenang. Saya katakan pada syifa, "Ibu bangga sama syifa. Hari ini sudah sangat sabar menunggu Ibu. Terima kasih ya sayang, sudah memberikan kesempatan untuk Ibu belajar membuat kue." Setelah itu syifa kembali ceria dan bermain bersama ayahnya.
Mengkomunikasikan pada anak saat kita akan meninggalkannya untuk suatu keperluan, sangat baik untuk psikologis dan perkembangan karakter anak. Anak tidak merasa dibohongi, dan tidak merasa ditinggalkan. Bukan jaminan anak tidak akan rewel atau menangis saat ditinggal, tapi poinnya adalah anak mengetahui alasan kenapa orang tua Harus meninggalkannya, dan anak tau bahwa orang tua nya akan kembali setelah urusan tersebut selesai.
Saya terus belajar untuk bisa menekuni passion saya. Seperti hari ini usaha yang saya lakukan adalah mengikuti kelas Napoleon cake Di @bantencookingclass dengan @tehdetty sebagai instruktur nya. Barakallah Teh, terima kasih ilmunya, semoga bisa membawa manfaat dan kebaikan untuk kita semua, terutama teteh dan keluarga.
Sebenarnya agak berat untuk saya mengikuti kelas hari ini karena Harus meninggalkan syifa dan ayahnya selama beberapa jam. Saya khawatir ayah akan kewalahan mengasuh syifa tanpa saya. Beberapa jam sebelum kursus dimulai, saya berusaha menerapkan komunikasi produktif kepada syifa.
Ibu : "syifa... hari ini Ibu mau belajar buat kue. Selama Ibu belajar, syifa main sama ayah, wa lia, mbah, dan aa fian yah. Syifa sama ayah antar Ibu dulu ke tempat belajar nya, setelah itu syifa jemput wa Lia trus pulang. Nanti siang Ibu pulang, baru syifa bisa mimik lagi.."
Syifa : (hanya terdiam, syifa memperlihatkan ekspresi tidak keberatan).
Saya yakin syifa mengerti yang saya bicarakan, karena sudah seringkali syifa memberikan respon, interaktif sesuai dengan kemampuannya, jika saya ajak bicara.
Ternyata kelas hari ini selesai tepat saat adzan ashar berkumandang. Sudah sangat lama untuk syifa menanti kepulangan saya. Saat saya tiba dirumah, terlihat sisa tangisan dengan airmata yang masih berlinang dikedua pipinya. Syifa langsung menangis histeris ketika dia melihat saya. Saya coba menenangkannya. Setelah beberapa saat alhamdulillah akhirnya syifa bisa tenang. Saya katakan pada syifa, "Ibu bangga sama syifa. Hari ini sudah sangat sabar menunggu Ibu. Terima kasih ya sayang, sudah memberikan kesempatan untuk Ibu belajar membuat kue." Setelah itu syifa kembali ceria dan bermain bersama ayahnya.
Mengkomunikasikan pada anak saat kita akan meninggalkannya untuk suatu keperluan, sangat baik untuk psikologis dan perkembangan karakter anak. Anak tidak merasa dibohongi, dan tidak merasa ditinggalkan. Bukan jaminan anak tidak akan rewel atau menangis saat ditinggal, tapi poinnya adalah anak mengetahui alasan kenapa orang tua Harus meninggalkannya, dan anak tau bahwa orang tua nya akan kembali setelah urusan tersebut selesai.

Komentar
Posting Komentar