Senyum jahilnya syifa
Day 2, praktek komunikasi produktif bunda sayang level 1.
Semalam saya coba mempraktekkan materi komunikasi produktif ke syifa anak saya, 14 bulan. Saya berusaha sounding kepadanya, tentang makanan dan minuman. Saya pernah membaca bahwa anak diatas usia 12 bulan, ASI yang dikonsumsinya hanya memenuhi sekitar 12 % kebutuhan bayi. Maka saya ingin menyampaikan kepada syifa, bahwa jika ia lapar maka syifa Harus makan. Dan jika syifa haus syifa Harus minum.
Kebetulan kemarin saya pulang sudah sore, lebih beberapa jam dari biasanya. Diperjalanan pulang terbayang wajah syifa yang sudah sangat lama menanti saya. Biasanya saya pulang kerja paling telat jam 14.00. Saat sampai rumah langsung mengganti pakaian dan bersih-bersih sambil ditemani syifa yang sudah tidak sabar ingin segera menyusu. Dan kemarin saya pulang sekitar jam 4, syifa sudah benar2 lesu karena terlalu lama menunggu saya. Saat saya datang, syifa langsung berteriak kegirangan dan merengek untuk segera menyusu.
Akhirnya tiba waktu menyusui. Dengan sangat tergesa2 syifa segera menghampiri saya. Dia menghisap dengan sekuat tenaga. Walaupun terasa sakit, saya berusaha menahannya, dan maklum dengan kondisi tersebut, namun bahagia karena merasa dibutuhkan oleh syifa yang sebentar lagi akan segera besar dan belum tentu akan menanti saya pulang kerja dengan penuh harap seperti sekarang ini. Saya coba menikmati momen ini. Akhirnya setelah saya rasa syifa sudah mulai kenyang, karena saya bisanya sudah mulai kendur. saya berusaha untuk mengajak syifa ngobrol walaupun mungkin syifa belum terlalu mengerti. Saya katakan pahanya "kakak, terima kasih ya kakak sudah dengan Sabar menunggu Ibu pulang. Kakak baik sekali mau sabar menunggu Ibu dirumah ditemani Nenek dan teteh iyong (pengasuhnya). Kalo Ibu belum pulang dan kakak sudah lapar, kakak makan ya. Dan kalau kakak haus, kakak minum digelas. Karena nenen sudah tidak cukup lagi untuk kakak." Saya harap syifa mengerti apa yang saya bicarakan. Saya menunggu responnya. Saya tetap hangat matanya yg bulat dan berbinar. Dan sesaat kemudian hikkkkkkkkks.... Bibirnya menyeringai dan tersenyum puas sekali... Syifa menggigit saya. Walaupun kesakitaa, tapi saya tidak dapat menahan tawa melihat senyum jahilnya yang terlihat puas sekali sudah menggigit saya.
Ah syifa... Ibu sayang sekali sama syifa..
Semalam saya coba mempraktekkan materi komunikasi produktif ke syifa anak saya, 14 bulan. Saya berusaha sounding kepadanya, tentang makanan dan minuman. Saya pernah membaca bahwa anak diatas usia 12 bulan, ASI yang dikonsumsinya hanya memenuhi sekitar 12 % kebutuhan bayi. Maka saya ingin menyampaikan kepada syifa, bahwa jika ia lapar maka syifa Harus makan. Dan jika syifa haus syifa Harus minum.
Kebetulan kemarin saya pulang sudah sore, lebih beberapa jam dari biasanya. Diperjalanan pulang terbayang wajah syifa yang sudah sangat lama menanti saya. Biasanya saya pulang kerja paling telat jam 14.00. Saat sampai rumah langsung mengganti pakaian dan bersih-bersih sambil ditemani syifa yang sudah tidak sabar ingin segera menyusu. Dan kemarin saya pulang sekitar jam 4, syifa sudah benar2 lesu karena terlalu lama menunggu saya. Saat saya datang, syifa langsung berteriak kegirangan dan merengek untuk segera menyusu.
Akhirnya tiba waktu menyusui. Dengan sangat tergesa2 syifa segera menghampiri saya. Dia menghisap dengan sekuat tenaga. Walaupun terasa sakit, saya berusaha menahannya, dan maklum dengan kondisi tersebut, namun bahagia karena merasa dibutuhkan oleh syifa yang sebentar lagi akan segera besar dan belum tentu akan menanti saya pulang kerja dengan penuh harap seperti sekarang ini. Saya coba menikmati momen ini. Akhirnya setelah saya rasa syifa sudah mulai kenyang, karena saya bisanya sudah mulai kendur. saya berusaha untuk mengajak syifa ngobrol walaupun mungkin syifa belum terlalu mengerti. Saya katakan pahanya "kakak, terima kasih ya kakak sudah dengan Sabar menunggu Ibu pulang. Kakak baik sekali mau sabar menunggu Ibu dirumah ditemani Nenek dan teteh iyong (pengasuhnya). Kalo Ibu belum pulang dan kakak sudah lapar, kakak makan ya. Dan kalau kakak haus, kakak minum digelas. Karena nenen sudah tidak cukup lagi untuk kakak." Saya harap syifa mengerti apa yang saya bicarakan. Saya menunggu responnya. Saya tetap hangat matanya yg bulat dan berbinar. Dan sesaat kemudian hikkkkkkkkks.... Bibirnya menyeringai dan tersenyum puas sekali... Syifa menggigit saya. Walaupun kesakitaa, tapi saya tidak dapat menahan tawa melihat senyum jahilnya yang terlihat puas sekali sudah menggigit saya.
Ah syifa... Ibu sayang sekali sama syifa..

Komentar
Posting Komentar